Dampak Negatif Tontonan Anak yang Tidak Sesuai
Judul Artikel : Anak yang Terpapar Tontonan yang tidak Sesuai Rentan Stres
Tangggal : Rabu, 26 Januari 2022
Tema : Edukasi
Nama Penulis : Basuki Eka Purnama
Anak-anak penuh dengan rasa keingintahuan yang tinggi, termasuk dalam mencari hiburan seperti menonton televisi. Televisi memang menjadi salah satu hiburan yang banyak digemari baik oleh orang dewasa maupun anak-anak. Terdapat beragam program dalam televisi yang membuat anak betah menontonnya.
Akan tetapi, apakah semua tayangan di televisi pantas atau sesuai untuk ditonton oleh anak-anak? Spesialis Kedokteran Jiwa Feilin Tanita dari Universitas Sebelas Maret Surakarta mengatakan, "Anak belum bisa membedakan yang mana akting dan kenyataan. Otak akan menganggap itu nyata dan direspons sebagai bahaya.'' Karena menganggap apa yang ditonton sebagai bahaya, otak anak kemudian memproduksi hormon adrenalin dan kortisol yang lebih banyak. Kadar adrenalin yang banyak dan berkepanjangan bisa mengganggu hampir semua proses di dalam tubuh.
Akibatnya anak menjadi berdebar-debar karena detak jantung yang bekerja lebih cepat, tekanan darahnya tinggi, adanya peningkatan lemak dalam darah, peningkatan gula darah juga pembekuan darah yang lebih cepat sehingga menimbulkan plak. Kadar adrenalin yang terlalu banyak juga merangsang tiroid, menimbulkan gangguan pencernaan, gangguan tidur, gelisah, depresi hingga penurunan konsentrasi dan daya ingat.
"Ada beberapa isi acara televisi yang patut diwaspadai, seperti kekerasan dalam film, sinetron atau berita, konten pornografi, konten yang berisi kejahatan dimana tokoh jahat kerap lebih sering dieksoloitasi dibandingkan orang baik sampai acara mistis. Demikian, dampingi anak saat menonton sehingga orangtua bisa memberi pemahaman tentang kepura-puraan dalam film. Diskusikan juga pesan moral yang bisa menambah kehangatan dan komunikasi anak serta orangtua." kata Feilin.
Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat bidang Kelembagaan, Hardly Stefano Pariella juga menambahkan, bahwa mereka akan terus mendorong untuk mendapatkan konten yang lebih beragam setelah perpindahan sistem dari analog ke digital termasuk siaran-siaran yang ditujukan khusus untuk penonton di kalangan anak-anak. Tetapi konten yang sudah ada harus terus diawasi dan orang tua tetap perlu mendampingi anak.
Oleh karena itu, orangtua harus senantiasa mendampingi buah hati mereka dalam menonton televisi dan memastikan konten yang dikonsumsi sesuai dengan usianya. Orangtua juga perlu memastikan agar buah hati tidak terjebak dalam pola menonton yang membuat mereka ketagihan dan ketergantungan. Sebagai contoh, buatlah kesepakatan dengan buah hati soal jadwal menonton, acara yang bisa dinikmati dan durasi menonton televisi.
Orang tua harus memanfaatkan media televisi sebagai sumber belajar, mendapatkan informasi, membangun sportivitas lewat acara-acara olahraga dan memberikan hiburan yang positif.
Komentar
Posting Komentar