Krisis Sampah yang Belum Berakhir
Oleh Feronika Suharli
Rabu, 23 Februari 2022.
Budaya membuang sampah pada tempatnya dan mendaur ulang sampah tampaknya belum dilakukan secara tegas sementara produk dengan kemasan plastik semakin bervariasi. Pemerintah dan rakyat seharusnya bekerja sama dalam menerapkan kebijakan yang ramah lingkungan.
Permasalahan plastik sampah di Indonesia sudah menjadi perhatian dunia dan sulit untuk dilepaskan. Keadaan ini dipandang miris karena sampah bukan masalah sepele dan terus dihasilkan setiap harinya.
Penyebab dari permasalahan sampah ini adalah lonjakan penduduk, kurangnya kesadaran dalam pentingnya mendaur ulang sampah, pemakaian produk yang berbahan plastik atau sekali pakai, dan diperparah dengan tempat pembuangan sampah akhir yang tidak memadai sehingga masyarakat memilih untuk membuang sampah di tempat yang tidak seharusnya seperti di sungai.
Padahal efek dari permasalahan sampah plastik ini cukup serius seperti sumber penyakit, rusaknya ekosistem, terjadinya pencemaran baik tanah, air, dan udara serta timbulnya bencana yang umumnya terjadi yaitu banjir. Kita harus menyadari dan tidak menutup mata karena musuh sekarang bukan musuh dalam perperangan tetapi sampah itu sendiri.
Memang benar cara mengatasi krisis sampah ini bukan semudah membalikan telapak tangan, tetapi dapat dimulai dengan aksi yang sederhana seperti tertib membuang sampah di tempat yang seharusnya, membatasi pemakaian produk yang sekali pakai lalu menggantinya dengan produk yang ramah lingkungan. Para orang tua juga harus mendidik anak akan pentingnya sikap cinta lingkungan.
Mendaur ulang sampah plastik bahkan bisa menjadi sumber pendapatan yaitu dengan menggunakan konsep ekonomi sirkular yang memanfaatkan nilai ekonomi sampah secara maksimal (Pola 3R, Reduce, Reuse, dan Recycle).
Komentar
Posting Komentar